Ahad, 3 Julai 2011

~EPISOD CINTA DI AKHIR HAYAT RASULULLAH~



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM....


ASSALAMUALAIKUM....

Alhamdulilah...aku bsyukur dgn nikmat iman,islam dan nikmat aku dpt mmbuka mata lagi arini dgn hirupan nafas yg Allah pinjam dan berikan kpd aku..aku bsyukur pdMu ya Allah...wt sahabat2..tika ini..saat aku mnulis ni..aku bru blk dr kuliah tuk paper ''usul fiqh''..MasyaAllah..soalannye leh tahan jgak..tp..ape yg mmpu aku wt..usaha yg terbaik mgkin..dan seterusnya aku berserah sgala2nya pd Allah..

smpai2 je di rumah..aku trus mnunaikan kwajipan dlu..kmudian aku mmbuka laptop dan aku tertarik ngan satu kisah ni..iaitu''episod cinta di akhir hayat Rasulullah''..Ya Allah..saat aku terbaca kisah ini..hati aku seolah2 menangis dgn cerita ini..ini lah kisahnye..mge jd tauladan dan pengajaran wt kte umat Rasulullah masa ini...sama2 hayati::::::

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari episode kehidupan Nabi Muhammad saw yang dinukil dari kitab “Duratun Nashihin”. Kisah ini menggambarkan keadilan Rasulullah dan kecintaan para sahabatnya. Sebuah cinta yang berlandaskan iman dan berbalas surga.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.


Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut keranaNYA dan air mata bercucuran karenanya.


Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seizinNya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan daripada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”


Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.


Berdirilah dia di depan Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya Rasulullah?”.

Rasulullah bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.”

Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”

Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqisas

Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”

Fathimah bertanya: “Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qisas”

Fathimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mahu membalas pada Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata: “Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”

Bersabdalah Rasulullah SAW: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”

Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: “Hai Akasyah, aku masih hidup di depan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”

Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata: “Hai Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai penyejuk mataku.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mahu memukul.”

Akasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”

Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.

Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menunduk dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dari neraka.”

Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: “Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni syurga maka hendaklah dia melihat orang ini.


Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan darjat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di syurga kelak...


lihatlah!!!!!bagaimana keadilan dan kebaikan Rasulullah...shingga mana baginda sanggup mengqisaskan dirinya..di atas ketidaksengajaan baginda sndiri..tp...lihatlah..betapa sygnye sahabat2 Rasulullah..bgn tuk mmpertahankan baginda daripada diqisas..dan lihatlah...betapa sygnye Akasyah bin Muhsin kepada Rasulullah..beliau tidak mmbalas sdikitpun pd Rasulullah..bahkan..beliau snggup mencium punggung Rasulullah...shinggalah Rasulullah bersabda dihadapan sahabat2 bagindas yg lain..bahawa Akasyah bin MUhsin ini akan dpt menempatkan diri bersama2 dgn Rasulullah kelak..


Dan ingatlah!!!bahawa..maaf bermaafan lah sesama manusia..diatas kesalah yg sengaja mahupon yg tidak disengajakn kte melakukannye..daripada bermaaf2 itu lah..maka akan timbul kasih syg sesama manusia..InsyaAllah..ambillah kisah ini sebagai teladan buat kte sume yg msih hidup di dunia yg fana dan semakin hampir ngan kehancuran..bermaaf2 lah sesama manusia..sblm kte akan saling balas mmbalas di akhirat kelak ngan balasan Allah...bersama2 lah kita mngambil manfaat drpd kisah ini..


ape yg baik datangnya drpd Allah dan ape yg kurang dtgnye drpd kelemahan dan kekerdilan serta kehinaan diri ini dan secara hakikatnya..kdua2 ini adalah daripada Allah...waallahutaa'la a'lam..


~SYUKRAN WA JAZAKAALLAHU KHAIRAN KATHIRA~


karya:KALAM MUFID
sumber:ALHABIB ARTIKEL

Tiada ulasan:

Catat Ulasan